Sosialisasi Empat Pilar MPR Di SMA 15 Jakarta Utara

Senin, 19 Agst 2019 - 12:50

 

Dihadapan para siswa, guru dan alumni SMAN 15 Jakarta, Ketua Badan Anggaran MPR RI, Ir. H. Idris Laena M.H, menyampaikan kekagumannya terhadap kekayaan Indonesia. Disebutnya, Indonesia adalah Negera yang besar, terdiri dari 17,000 pulau, 1370 suku, serta 800 bahasa. Kekayaan Indonesia, itu menurut Idris Laena bukan hanya membanggakan tetapi juga berpotensi menyebabkan perpecahan.

Uni Soviet, kata Idris, negara adidaya itu kini telah hilang dari peta dunia. Negara itu terpecah belasan negara kecil, yang memerdekakan dirinya sendiri. Demikian pula Yugoslavia negara yang dulu makmur dengan angkatan perangnya yang sangat kuat, itu kini menjadi negara-negara sendiri, sesuai kelompok-kelompok yang hidup di sana. Sedangkan Libanon, negeri nan Indah itu saat ini dilanda kecamuk perang saudara yang tak berkesudahan. Di Libanon, pertempuran bisa terjadi kapan saja, meski sebelumnya dalam kondisi damai.

“Kita harus syukuri hidup di Indonesia. Kita memang belum terlalu maju, tetapi kita hidup dengan aman dan damai. Kita bisa melakukan aktifitas, tanpa harus merasa takut dan mencekam”, kata Idris Leina menambahkan.

Suasana seperti itu menurut Idris harus dipertahankan. Caranya, semua kelompok dan suku-suku yang ada di Indonesia, saling menghormati satu dengan yang lainnya. Tidak boleh ada satu kelompok pun yang merasa menang sendiri. Semua harus mau berkorban demi kepentingan bersama.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Badan Anggaran MPR yang juga Sekretaris Fraksi Partai Golkar MPR RI Ir. H. Idris Laena M.H, saat memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, dihadapan keluarga besar SMAN 15 Jakarta Utara. Acara tersebut merupakan kerjasama antara MPR dengan Bina Prestasi Nusantara dan berlangsung dihalaman SMAN Libel pada Senin (19/8). Ikut hadir pada acara tersebut Kepla Sekolah SMAN 15 Nurita Siregar S. Pd dan para alumni SMAN 15.

Salah satu contoh sikap toleransi dan pengorbanan yang patut di tiru oleh generasi muda, menurut Idris adalah saat umat Islam Indonesia rela menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta sehingga untuk menjadikan Pancasila seperti yang dikenal sekarang. Saat itu, para ulama lebih mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia, dibanding ego keagamaan. Dan dengan sukarela serta keikhlasan yang tinggi mereka memilih negara Kesatuan Republik Indonesia dibanding negara Islam.

“Sikap-sikap seperti ini harus senantiasa dikedepankan. Mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, di atas kepentingan kelompok dan golongan. Inilah yang akan membuat NKRI terus bersatu. Tetapi jika masing-masing kelompok, mengutamakan kepentingan golongannya sendiri, sangat mungkin NKRI ini akan terpecah belah”, kata Idris Leina lagi.
Negara yang kuat menurut Idris bukan ditentukan oleh militernya. Sejarah membuktikan Uni Soviet yang ditakuti Amerika kini lenyap dari peta dunia. Tetapi, kuat lemahnya suatu negara ditentukan oleh rasa nasionalisme seluruh warganya. Jika nasionalisme masyarakat tinggi, apapun hambatan yang dihadapi, mereka akan bersatu padu menghadapi hambatan yang menghadang. Tanpa harus menunggu militernya turun tangan.


Baca Juga

Kontak